AswajaCerpen & PuisiOpini

Layla Majnun, Kisah Cinta Abadi

Oleh : KH. Husein Muhammad

Layla. Boleh jadi nama yang paling banyak disebut orang di dunia. Ia dipakai sebagai lambang sosok perempuan cantik jelita, sebuah keelokan paripurna. Ia dikenal luas dalam kisah cinta abadi “Qais dan Layla”, atau “Layla-Majnun”.

Layla al Amiriyyah, lahir tahun 28 H di Najd. Nama lengkapnya Layla bin Saad bin Mahdi bin Rabiah. Salah seorang perempuan dari keluarga terpandang dan perempun tercantik di komunitasnya saat itu. Ia dari kabilah Hawazin. Hidup pada masa pemerintahan Marwan bin Hakam dan Abd al-Malik bin Marwan. Keluarga Layla hidup di sebuah kampung.

Sementara nama lengkap kekasihnya adalah Qais bin Mulawwih (Mulawwah) bin Muzahim bin ‘Adas bin Rabi’’ah bin Ja’dah bin Ka’b bin Rabi’ah. Sebagian orang menyebut Qais bin Mu’adz dari Kabilah Amir. Lahir tahun 24 H di Najd. Layla dan Qais adalah masih bersaudara, sepupu. Qais adalah anak paman Layla.

Kisah cinta Layla-Qais, dipandang sebagai cinta abadi paling legendaries yang berakhir tragis. Ia telah menginspirasi banyak sastrawan besar dunia, untuk menulis kisah cinta abadi yang senafas, seperti Romeo and Juliet, karya William Shakespeare, “Romi dan Juli”, “Magdalena-Stevan”, karya Alphose Karr berjudul Sous les Tilleus (Dalam bahasa Prancis berarti, Di Bawah Pohon Tilia) yang kemudian diterjemahkan atau disadur dengan sangat apik oleh Musthafa al-Manfaluthi, menjadi “Majdulin”, dan ”Hayati dan Zainuddin dalam Tenggelamnya Kapal Vanderwijck karya Buya Hamka yang menhebohkan itu dan lain-lain.

Layla Majnun, Real Atau Khayal ?

 Kisah cinta Layla-Qais, atau yang lebih popuer “Layla-Majnun” dipandang oleh dunia sastra sebagai cinta abadi paling legendaries yang berakhir tragis. Kisah percintaan dua orang anak manusia itu telah menginspirasi banyak sastrawan besar dunia, untuk pada gilirannya menulis kisah cinta abadi yang senafas, seperti Romeo and Juliet, karya William Shakespeare, “Romi dan Juli”, “Magdalena-Stevan”, karya Alphose Karr berjudul Sous les Tilleus (Dalam bahasa Prancis berarti, Di Bawah Pohon Tilia) yang kemudian diterjemahkan atau disadur dengan sangat apik oleh Musthafa al-Manfaluthi, menjadi “Majdulin”, dan ”Hayati dan Zainuddin dalam Tenggelamnya Kapal Vanderwijck karya Buya Hamka yang menhebohkan itu dan lain-lain.

Baca juga:  Mengenal Dunning-Kruger Effect, Ketika si Bebal Bikin Sebal

Kisah Cinta Layla-Qais ditulis oleh para sastrawan dan sufi besar dari berbagai negara Arab, Persia, Turki, India dan lain-lain dengan versi yang berbeda-beda. Mereka antara lain : Al-Ashmu’I (w. 215 H), berasal dari Arab, Nizami Ganjavi, Nizam al-Din, (w. 599 H), dari Persia, Sa’d al-Syirazi (w. 1291 M) Persia, Abd al-Rahman al-Jami (w. 1492 M), Persia , Amir Khasru al-Dihlawi (w. 1325 M), asal Turki kemudian pindah ke Delhi, Ahmad Syauqi (1932 M), Mesir, dan lain-lain.

Sebagaimana kisah Rabi’ah al-‘Adawiyah, Kisah Layla-Majnun juga kontroversial dari aspek apakah ia riil, menyejarah, ada, atau hanya “legenda”, “mitos”, “dongeng” “simbol” atau karya khayali para sastrawan yang dituturkan dari mulut ke mulut, berdasarkan tradisi lisan.

Para sastrawan yang menulis kisah ini juga berbeda-beda menuturkan jalan ceritanya. Saya kira dalam hal ini tidaklah penting untuk diperdebatkan dengan amat serius apalagi sampai bertengkar, apakah riil atau khayalan belaka. Yang utama adalah untuk apa ia ditulis dengan cara seperti itu. Kisah-kisah percintaan antara dua orang berikut seluruh perjalannya yang berliku-liku, gejolak-gejolak keriangan dan kegelisahan, gelak tawa dan tangis, kerinduan dan kesakitan yang indah, menjadi pelajaran berharga bagi manusia tentang kehidupan yang penuh problema dan misteri.

Hal yang sama juga terjadi dalam kisah Cinta Rabi’ah al-‘Adawiyah. Banyak orang bertanya apakah cinta itu?. Seorang sufi menjawab :

الحب ذوق لاتدرى حقيقته. هذا والله عجب عجب

Cinta adalah rasa yang penuh misteri, yang tak bisa diketahui esensinya.

Kita mengambil salah satunya saja. Seperti film Gita Cinta di Sekolah, kisah cinta Layla dan Qais juga bermula di sekolah. Qais dan Layla adalah pelajar di sebuah sekolah/madrasah dengan kelas yang berbeda. Qais kakak kelas Layla. Qais pelajar cerdas dan ganteng. Layla, pintar dan paling cantik.

Baca juga:  Lapar

Mereka bertemu di sana secara kebetulan. Mata Qais bertemu mata Layla. Cahaya mata Qais menembus jantung jiwa Layla dan cahaya mata Layla menusuk relung jiwa Qais. Lalu mereka terpenjara oleh sebuah rasa yang asing tetapi indah yang tiba-tiba hadir.

Kedua orang itu sesungguhnya masih sangat muda. Sebuah syair nenyebutkan

تعلَقت ليلى وهي ذات تمائم
ولم يبد للأتراب من ثديها حجم

Layla terjerat rasa cinta, saat itu ia masih sangat muda. Bahkan payudaranya belum tampak menonjol.

Layla dan Qais tak bisa makan, minum dan tak bisa tidur. Mereka disergap oleh rasa selalu ingin bertemu dan bicara manis. Keduanya tak mengerti mengapa ada perasaan ini. Ya perasaan yang mengganggu jiwa tetapi terasa indah.

Keduanya tiba-tiba menjadi penyair. ‏Mereka mendadak pandai menggubah puisi :

نهارى نهار الناس
حتى إذا بدا لى الليل هزتنى اليك المضاجع
اقضى نهارى بالحديث وبالمنى
ويجمعنى والهم بالليل جامع
لقد أثبتت فى القلب منك محبة
كما تثبت فى الراحتين الاصابع

Siangku adalah siang manusia yang lain
Bila malam tiba, tidurku sering terganggu oleh wajahmu
Sepanjang siang aku habiskan dengan perbincangan manis dan harapan-harapan
Dan sepanjang malam-malamku,
aku dicekam murung dan rindu
Cintaku padamu telah tertanam di relung kalbuku
Bagaikan jari-jari dua tangan yang merekat erat

Penulis merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Dar at-Tauhid Arjawinangun

Related Articles

Back to top button